Memulai bisnis dengan modal besar tentu bukanlah hal yang mudah. Terutama bagi para pendatang kota-kota besar. Dengan modal “dengkul” dan modal “nekat”, mereka mencari penghidupan dikota-kota besar. Modal “dengkul” karena apa yang mereka bawa hingga sampai di kota-kota besar umumnya hanya ongkos yang hanya cukup sampai di tujuan, dan modal “nekat”, karena umumnya pendidikan mereka yang rendah.

Ada yang cukup sukses memang, tapi lebih banyak yang bernasib tidak mujur. Tapi apa lacur, langkah sudah ditapaki dan impian besar sudah terlanjur di dengungkan di kampung halaman. Bertahan adalah satu-satunya jalan! Terlanjur basah, nyebur sekalian…

Dan, ada saja cara mereka bertahan di tengah kesulitan. Tak besar memang hasilnya, tapi cukup untuk mereka bertahan dan menafkahi anak istri, setidaknya dapat bertahan sampai kesempatan itu menghampiri mereka.

Inilah sebagian contoh bisnis-bisnis para wong cilik tersebut yang mungkin sebagian kita tidak tahu, atau mungkin bagi kita yang sudah tahu, cukup berdecak kagum melihat keuletan dan kreatifitas mereka ditengah kesulitan.

Pedagang Kredit Makanan Kecil

Bila kita berada di pemukiman padat di kota Jakarta, kita akan menemukan pedagang keliling makanan kecil yang di pak kecil dan dijual dengan harga Rp. 2000,- sampai Rp. 5000,-. Tidak aneh bukan? Tetapi akan menjadi aneh ketika kita tahu, makanan kecil itu di kreditkan hingga beberapa kali bayar!

Memulai bisnis dengan modal besar tentu bukanlah hal yang mudah. Terutama bagi para pendatang kota-kota besar. dengan modal “dengkul” dan modal “nekat”, mereka mencari penghidupan dikota-kota besar. Modal “dengkul” karena apa yang mereka bawa hingga sampai di kota-kota besar umumnya hanya ongkos yang hanya cukup sampai di tujuan, dan modal “nekat”, karena umumnya pendidikan mereka yang rendah.

Ada yang cukup sukses memang, tapi lebih banyak yang bernasib tidak mujur. Tapi apa lacur, langkah sudah ditapaki dan impian besar sudah terlanjur di dengungkan di kampung halaman. Bertahan adalah satu-satunya jalan! Terlanjur basah, nyebur sekalian…

Dan, ada saja cara mereka bertahan di tengah kesulitan. Tak besar memang hasilnya, tapi cukup untuk mereka bertahan dan menafkahi anak istri, setidaknya dapat bertahan sampai kesempatan itu menghampiri mereka.

Inilah sebagian contoh bisnis-bisnis para wong cilik tersebut yang mungkin sebagian kita tidak tahu, atau mungkin bagi kita yang sudah tahu, cukup berdecak kagum melihat keuletan dan kreatifitas mereka ditengah kesulitan.

Pedagang Kredit Makanan Kecil

Bila kita berada di pemukiman padat di kota Jakarta, kita akan menemukan pedagang keliling makanan kecil yang di pak kecil dan dijual dengan harga Rp. 2000,- sampai Rp. 5000,-. Tidak aneh bukan? Tetapi akan menjadi aneh ketika kita tahu, makanan kecil itu di kreditkan hingga beberapa kali bayar! Inilah cara mereka menjual makanannya agar bias laku di tengah persaingan bisnis dengan toko-toko besar. Mereka pikir, dengan menawarkan dagangannya dengan cara di kreditkan, maka akan terasa ringan bagi masyarakat yang juga berpenghasilan rendah di pemukiman padat di Jakarta. Cukup kreatif bukan?

Gelas plastikpun jadi duit

Anda suka jajanan minuman ringan di gelas plastik? Gelas minuman yang Anda buang itu akan bersih beberapa saat, karena gelas Anda itu masih berharga bagi orang-orang yang bekerja mengumpulkan gelas plastik.  Mereka keliling dengan membawa keranjang sampah atau sebuah karung goni. Tidak besar memang yang di dapat. Perkilo gelas plastik dijual kepada lapak dengan harga sekitar Rp. 4000/kg. Bila rata-rata mereka mendapatkan 2 kg gelas plastik, maka penghasilan mereka hanya Rp. 8000/hari. Cukupkah? Untuk seorang anggota DPR mungkin tidak cukup, tapi nyatanya mereka bisa bertahan hidup.

Lampu Bohlam; Barang Mall harga Kaki lima

Adalah Mansyur, yang tiap hari keliling untuk mencari bohlam-bohlam yang sudah dibuang oleh yang empunya. Bohlam yang dikumpulkanpun bukan bohlam sembarang. Mansyur biasanya hanya memilih dari merk-merk yang terkenal. Puas mengumpulkan bohlam-bohlam tersebut, Mansyur menyortir bohlam tersebut. Lampu bohlam yang masih baik dirangkaikan dengan mesin lampu yang masih baik. Dengan sangat sedikit keahlian elektronik, beberapa lampu berhasil diperbaiki dan bisa berfungsi. Hasilnya? Lampu yang biasa dijual ditoko dengan harga antara Rp. 25.000 hingga Rp. 35.000 dijual Mansyur dengan harga Rp. 5000 hingga Rp. 10.000.

KFC Buka Lapak di Sekolah-sekolah

Berapa harga sepotong ayam goreng tepung di mall-mall? Dan berapa harga sebuah kentang goreng? Dan kini anda bisa menemukannya disekolah-sekolah SD dengan harga antara Rp. 500 hingga Rp. 1000. Depan pagar sekolah memang merupakan sasaran bagi pedagang makanan kecil untuk meraup rupiah. Tapi dengan sasaran anak-anak, mereka harus berkreatifitas untuk menjual makanan dengan harga semurah mungkin dengan bentuk yang semenarik mungkin. Dan ayam goreng serta kentang goreng adalah salah satu favorit anak-anak tersebut. Tapi tentu saja tidak mungkin untuk menjual dengan harga mall. Inilah hasilnya, jajanan dengan harga tidak lebih seribu rupiah, dan mereka mendapatkan kelezatan sebuah “Kentacki Fred Ciken”.

Becak, riwayatmu kini

Semenjak becak dilarang dikota-kota besar, becak “mengungsi” kepinggiran kota. Dengan mangkal di komplek perumahan, para penarik becak masih berharap rizki dari kemalasan penghuni untuk berjalan kaki. Dengan harga sewa yang sangat murah, para penarik becak bisa berharap untuk membawa pulang rupiah. Harga sewa becak perhari sekitar Rp. 4000 dan penghasilan para penarik becak ini antara Rp. 15.000 sampai Rp. 30.000.

Inilah sebagian contoh-contoh cara wong cilik bertahan hidup. Ironis bukan? Disaat para anggota DPR maupun Menteri ribut untuk menaikkan gaji mereka hingga puluhan juta, mereka yang mengaku sebagai wakil dari wong cilik lupa ada orang yang hidupnya berkutat dengan memutar otak dan memutar otot untuk sekedar mendapatkan sekian rupiah dari nol koma lima persen gaji menteri dan anggota DPR. Dan mereka lebih kreatif kan?

Read more: http://news.indonewyork.com/index.php?mod=article&cat=Indonesia&article=454#ixzz0a3tgNATH