“Dajjal udah tiba!” Si Rahmat berseru. Aku hanya diam menunggu apa yang dia akan lanjutkan dengan seruannya itu.

“Ya, Dajjal udah tiba! Dia ada disekitar kita, ada diruang tamu, ada diruang tengah, ada dikamar, dia ada dimana-mana. Itu salah satu sifat Dajjal, ia bisa ada disuatu tempat, dan ditempat lain secara bersamaan. Dia ada didalam negeri, dia ada diluar negeri. Dia ada dimana-mana!!

Kali ini aku mulai berfikir…

“Ya, Dajjal adalah pendusta! Dia membohongi anak-anak kita, membohongi kita, membohongi orang tua kita. Dia membohongi seluruh dunia. Dia menipu semua orang. Dia menutup kebenaran dengan dengan sihir dan kejahatannya”

Sekarang aku melongo…

“Dajjal sudah tiba. Dia hadir untuk mempengaruhi anak-anak kita untuk lupa sholat, ia hadir sehingga para bapak tidak hadir untuk sholat di masjid. Semua terpana karena sihirnya, semua takjub karena kehadirannya. Sehingga manusia melupakan sholatnya, manusia menunda melakukan ibadahnya, bahkan sampai meninggalkan ibadah kepada-Nya…”

“Lo ngomong apa sih…” Aku penasaran

“Dajjal sudah tiba, ia bermata satu. Tanpa alis dan bulu mata!”

“Tambah nggak ngerti gua…”Aku menyahut

“Iya…! Dajjal! Dajjal udah datang!!! Ia membuat manusia saling berbunuh-bunuhan. Ia membuat orang menjadi binatang. Ia membuat anak durhaka pada orangtuanya, dan ia membuat sesama muslim saling menjelekkan!”

“Udah, to the point aja deh! Yang lo maksud siapa? Atau apa?”

“Dajjal itu TELEVISI! Coba simak ya; ia bermata satu, ia ada dimana-mana, ia membuat anak-anak menunda sholat magrib karena menonton kartun kesukaannya, ia membuat kita tersihir oleh gemerlap yang dihidangkannya. ”

“Ia mempengaruhi manusia untuk saling membunuh, ia membuat sesama muslim saling mencurigai, ia membuat syahwat menjadi panglima. Ia adalah televisi…!”

“Ah, ngaco loh. Nggak usah ngarang deh!” Aku tidak setuju dengannya…

“Tapi apa yang gw sebutin sebagai tanda-tanda itu bener, kan?”

“Ia, tapi bukan berarti lo bener!” Aku sedikit berpikir

“Nah, itu! itu dia. Yang tertulis kan nggak selalu diartikan secara harfiah. Bisa aja itu arti tersirat”

“Ah, gak! ngaco loh!”Aku ngotot

“Yah, pikir dong! Pikir! jangan asal…” temenku itu juga ngotot.

“HEH!!!” tiba-tiba si Rudi mengejutkan kami

“Brisik loh! tau gak kalo kita-kita lagi nonton bola!” Katanya kemudian.

“Iya nih! Udah pade diem loh!!!” Si Tono nyamber

“Udah… udah… ayo, terusin lagi! Lo masang berape Rud? Ton, skor lo brape-brape? Lo punya duit gak buat taruhan? Ntar ngutang, lagi…” Si Yanto, sang bandar berucap…

Aku hanya melongo… ada benernya juga ucapan si Rahmat ini…