Mendung menutupi langit Jakarta beberapa pekan ini. Dan hujan memang tak selalu serta merta datang, bilapun ada hanyalah rintik-rintik kecil yang cukup menyirami tanah yang makin lama makin gersang ini.

Mendung, adalah abu-abu. Mendung adalah kondisi diantara terang dan gelap, dan abu-abu adalah warna diantara hitam dan putih. Tidak ada kejelasan dari abu-abu, kita hanya berharap ia menjadi gelap (hitam) atau putih (terang). Tanpa sadar kita akan berharap, jika hujan; hujanlah dan jika terang; teranglah. Dan kita akan menentukan apa yang akan kita lakukan setelah kondisi terang dan gelap. Tidak ada keraguan, seperti saat mendung.

Hari boleh saja berlalu bersama mendung, tapi pengharapan terhadap terang adalah kepastian. Dan pengharapan terhadap gelap adalah kepasrahan.

Hujan (baca; gelap) kadang bagi sebagian adalah kondisi dimana manusia terlihat sama, semua gelap; semua hitam. Dan kita tidak melihat adanya perbedaan. Semuanya salah; semuanya benar. Dan kita tidak -juga- melihat adanya perbedaan.

Tapi gelap tak ada tanpa terang. Lalu kitapun merindukan terang. Dalam terang semua tampak jelas, semua terlihat; semua berbeda. Dan kitapun melihat siapa yang salah, dan siapa yang benar… semuanya terang…

Mendung, memang masih menyelimuti langit Jakarta, dan kita hanya bisa berharap akan hujan atau terang!

Pondok Gede, 26 November 09

David Usman