Merdeka tapi Bingung

Tulisan itu terpampang pada sebuah gitar dari seorang pengamen. Aku membacanya secara tak sengaja. “Merdeka tapi Bingung”, dimana ya kata-kata itu seperti begitu akrab di telingakku. Ya, kata-kata itu begitu ku kenal dan seolah familiar di telingaku.

Entahlah, aku coba mengingat…tapi tak bisa. Merdeka tapi Bingung! Mungkin bukan kata yang pernah ku baca, tapi karena kata-kata itu mewakili hampir setiap warga negara Indonesia, jadilah kata itu begitu familiar.

Aku coba cari dicoretan dinding, lukisan di truk-truk ataupun stiker di motor-motor. Tidak ada. Tapi “Merdeka tapi Bingung” mengaung terus di telingaku.

Siang itu aku melahap cendol di pinggiran jalan Jatiwaringin. Tampak seorang berpakaian rapi dengan tas hitam jinjing datang. Memesan cendol dan duduk disebelahku.

“Maaf mas, permisi”, katanya sambil mengambil tempat di sebelahku.

“Oh, iya. Silakan”, balasku.

Singkat cerita, dari basa-basi tadi kami terlibat perbincangan hangat. Ia menceritakan bahwa ia lulusan STM yang sedang mencari kerja. Sudah 2 tahun sejak ia lulus tidak mendapatkan pekerjaan. Dan bilapun ada, hanyalah kerja-kerja sambilan seperti menjadi kuli ataupun menjadi penjaga warnet. MERDEKA TAPI BINGUNG?

Lain hari, ketika sedang mengerjakan service komputer di showroom ku, seorang sales wanita datang menawarkan barang dagangannya. Dengan sopan aku berucap, “nggak mbak, terima kasih”. Tanpa aku duga, wanita itu membanting dagangannya sambil menangis… Oalah. “Benci aku. Sudah cape, keliling seharian, gak ada yang laku! Uhuuhuu..” MERDEKA TAPI BINGUNG?

Malam ini aku gak ada acara. Iseng kuajak istriku untuk jalan ke rumah adiknya untuk silaturahmi. Sampai kami disana, sedikit cemilan dan kopi, mulailah pembicaraan. Adik iparku sedang bingung karena gajinya yang pas-pasan. Dengan 1,2 juta perbulan, penghasilannya tidak mencukupi untuk bayar kontrakan, bayar motor kreditan dan belanja rumah… hmm MERDEKA TAPI BINGUNG?

Pulanglah aku dan istriku. Malam sudah terlalu larut karena kami keasyikan ngobrol. Sepanjang jalan, pemandangan yang tadinya biasa menjadi tidak biasa bagiku. Ada orang gila yang termenung pinggir jalan. Ada kakek tua yang tertidur di emperan toko. Ada ibu yang menyusu anaknya yang pulas tertidur di emperan toko yang lain. Dilain tempat, ada pedagang yang tertidur pulas disamping barang dagangannya yang tak laku. MERDEKA TAPI BINGUNG?

Lelah aku membaringan tubuhku di kursi sambil meraih remote. Kuhidupkan TV. Siaran berita adalah favoritku. “Seorang ibu dan tiga anaknya meninggal karena kelaparan”, begitu sang penyiar membacakan beritanya. “Seorang bapak bunuh diri karena tidak mendapatkan uang untuk biaya anaknya sekolah” berita yang lain. “Beberapa orang meninggal dan beberapa lainnya terluka akibat berebut sedekah” demikian berita selanjutnya. Aku bergumam…hmm. MERDEKA TAPI BINGUNG?

Aku berkesimpulan; kata-kata MERDEKA TAPI BINGUNG bukanlah kata yang sering aku lihat atau aku baca dimana-mana, meskipun kata itu begitu akrab ditelinga. Tapi kata MERDEKA TAPI BINGUNG adalah refleksi dari begitu banyak kejadian, begitu banyak peristiwa yang akrab dialami oleh banyak dari kita, warga negara Indonesia. Kejadian atau peristiwa itu ada di sebelah kita, ada di jalan-jalan, ada diwarung-warung, ada di mana-mana.

Dan Anda sendiri juga akrab kan dengan kata-kata MERDEKA TAPI BINGUNG?

Pondok Gede, 29 November 2009

Orang Bingung