Pernyataan Tifatul yang Menghebohkan

“Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik? Soal selembar kain saja kok dirisaukan?” (Tempo, 7 Juni 2009)

terlalu… memang kalau dilihat komentar tersebut keluar dari seorang Tifatul!

Memang kenapa ya? kenapa istimewa? bukankah Tifatul hanya seorang tokoh “kecil” (itu pendapat orang ketika menilai partai “kecil” dan orang “kecil” seperti PKS dan Tifatul). Kenapa tokoh “kecil” dan partai “kecil” yang tidak dipandang ketika memberikan masukan dan pandangan yang berharga itu sekarang menjadi orang “BESAR” di saat memberikan pernyataan yang
“salah”?

Begitu juga yang terjadi pada Rama Pratama, Zulhamli Al Hamidi, dan beberapa tokoh PKS, partai yang tidak “penting” itu menjadi begitu “BERHARGA”.

Dan hebatnya lagi, “pengadilan warung kopi” semacam itu tidak membutuhkan lagi klarifikasi dari pihak manapun. Lalu hujatan demi hujatanpun muncul tanpa klarifikasi terlebih dahulu.

Berprasangka buruk lebih diutamakan untuk menilai seseorang. Dan pembunuhan karakter untuk tujuan tertentupun berhasil dilakukan.


Berprasangka Baik Siapa yang Punya?

Inilah fenomena aneh yang terjadi bertahun-tahun. Orang akan langsung mengambil kesimpulan terhadap berita buruk yang disebarkan lewat media-media yang sesungguhnya merupakan musuh-musuh Islam, dan lebih menyedihkan lagi, mereka yang percaya adalah orang Islam.

Rumor, isu, gosip, pelintiran kata-kata, pemotongan statemen yang merubah arti, dan metode pembenaran visual jadi makanan kita sehari-hari untuk percaya terhadap apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar.

Tak peduli klarifikasi, tak peduli azas praduga tak bersalah, tak peduli track record…


Gajah di Pelupuk Mata tidak Kelihatan

Inilah hebatnya pengaruh media. Orang banyak disuguhi beberapa berita yang keburukan Islam maupun orang Islam, kadang dikemas dengan “santun” untuk mempengaruhi orang. Membunuh karakter, dan membunuh ideologis adalah hal yang diperlukan musuh-musuh Islam.

Lain halnya dengan “keburukan” yang terjadi didepan mata. Orang bersikap tak acuh, bahkan bagi sebagian orang Islam. Keburukan dibungkus sedemikian rupa dengan – lagi-lagi – “santun” untuk melakukan pembenaran.

Inilah sebagian “gajah” yang tak terlihat itu:

– Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki, beribu jiwa melayang dan sebagian bahkan hangus jadi debu? Apakah ini bukan genoside?

– Pembantaian Yahudi di Palestine, dan pengusiran warga Palestine dari tahahnya. Bukankah ini penjajahan? Dimana empatimu saudaraku?

– Pendudukan Irak, Afganistan, dan beberapa pengaruh dan bantuan Amerika dan Yahudi untuk membantai warga muslim di Sudan, Pakistan, Thailan. Sadarkah kalian, adakah kalian peduli? Setidaknya mencari kebenaran berita untuk tidak sekedar menjelekan agama kalian?

– Penjara tanpa pengadilan, semacam Guantanamo? Dan di beberapa tempat, adakah kita menilainya sebagai “ketidakadilan”. Dimana mereka yang berteriak HAM? Dimana Amerika yang mengaku menjunjung tinggi “HAM..”

– Suara rakyat suara tuhan, itu yang mereka junjung sebagai “ikon” demokrasi. Tapi apa yang terjadi ketika sebuah faksi semacam HAMAS memenangkan sebuah pemilu? Belum lagi campur tangan Amerika dibeberapa negara Islam agar pemerintah yang terpilih adalah pemerintah yang pro Amerika

mau lagi? banyak sekali… mulailah mencari sendiri kebenaran itu, tanpa berprasangka buruk terhadap saudara sendiri..


PKS dan MLM

Sedih memang, ketika orang lantang berteriak tentang Tifatul. Karena PKS sebagai Partai Dakwah yang membangun citra dirinya sebagai partai politik islam di kancah politik tanah air sudah berusaha keras untuk membangun citra positif lewat beberapa kegiatan sosial dan dakwah.

Tidak seperti kebanyakan partai negeri ini, hierarki yang membuat orang bisa duduk sebagai petinggi partai amatlah sulit dan melalui berbagai penilaian baik dari segi akhlak, keahlian dan profesionalisme.

Beberapa pengamat yang “sadar” mengibaratkan PKS seperti sebuah MLM (meski para Kader tidak setuju dengan pendapat ini). Kalau mengikuti pemikiran ini, anda akan tahu betapa sulitnya untuk mencapai posisi GOLD, bahkan SILVER sekalipun! Dan jika anda adalah orang yang berada dalam posisi GOLD disebuah MLM, anda akan tahu bahwa anda berada diposisi itu dengan kerja keras anda, perjuangan, dan meminimalkan segala kesalahan…dan jika anda dalam posisi itu, anda adalah orang yang HEBAT!!!

Demikian juga di partai yang begitu ketat sistem Kaderisasinya seperti PKS. Sangat tidak mungkin orang yang tidak punya kemampuan individu yang baik, akhlak yang mulia, pendidikan agama yang matang naik meluncur keatas menjadi orang nomor satu. Sebagai partai dakwah, menjadi orang nomor satu di PKS melalui beberapa tingkatan yang tidak mudah. Dimulai aktif mengikuti pengajian yang membentuk seorang muslim yang baik, mengikuti kegiatan-kegiatan masjid dan partai, lalu matang menjadi guru (murrobi) yang tetap terus belajar dan meningkatkan ilmu agama dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan dakwah dan sosial. Kemudian menjadi Ustadz yang tetap berpegang teguh pada agama… dan ketika mencapai puncak (baca GOLD) mereka adalah pribadi-pribadi yang matang baik dalam akhlak dan Agama. Dan mereka adalah orang-orang HEBAT (baca; GOLD)…

Lalu Bagaimana dengan Tifatul

Saya tidak perlu membeberkan disini tentang klarifikasi soal pernyataan Tifatul. Silakan anda baca sendiri dengan tetap berprasangka baik. Sebab tanpa berprasangka baik untuk menilai orang sekelas Tifatul (yang menurut saya orang “BESAR”) percuma saja seribu klarifikasi sekalipun.

Bahkan klarifikasi lebih sering dinilai sebagai pembelaan diri saja dibanding kebenaran…

Ah, kita memang baru mampu untuk mendengar yang kita dengar dan melihat apa yang kita lihat…